Sejarah Kereta Api Cepat Pertama, Shinkansen (Part 2)

Berakhirnya perang dunia kedua membuat Amerika menggunakan anggaran yang sangat besar untuk membangun infrastruktur untuk menghubungkan berbagai negara bagian di Amerika Serikat. Keputusannya untuk membangun infrastruktur dapat dipahami sebagai wujud nyata persatuan Amerika. Disisi lain, Amerika Serikat mulai menutup rute-rute yang sebelumnya telah mereka bangun dengan sangat gencar.

Hal ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat percaya bahwa rel kereta api tidak sesuai dengan perkembangan zaman dan semangat kebebasan yang menjadi bagian dari gaya hidup mereka. Bahkan sampai sekarang lintasan rel kereta api di Amerika umumnya lebih banyak digunakan untuk mengirim kontainer dan bukan penumpang seperti pada masa sebelumnya. Pemandangan yang tidak jauh berbeda dapat terlihat di Eropa yang mengalami pemulihan pasca perang dunia ke 2 dimana banyak negara masih menggunakan kereta api uap dan pembangunan rel kereta mengalami stagnansi jika bukan kemunduran.

Dibangunnya Projek Shinkansen, Kereta Api yang Mengejutkan Dunia

Dibelahan dunia lainnya, beberapa ahli kereta api di Jepang justru dengan keras kepala memutuskan untuk mengerjakan projek kereta api jenis baru dengan kecepatan yang tidak tertandingi oleh kereta api manapun di dunia. Mereka menyatakan bahwa kereta api jenis baru yang sedang mereka kembangkan dapat melaju dengan kecepatan hampir 2 kali dibandingkan kereta api jenis lainnya, projek itu bernama Tokaido Shinkansen.

Projek transportasi yang sangat ambisius ini awalnya dibuat untuk menghubungkan dua kota paling barat di seluruh Jepang yaitu Tokyo yang merupakan ibu kota dari Jepang dan Osaka yang adalah kota paling barat ke 2 dari Jepang. Selain kedua kota tersebut, rute ini secara tidak langsung juga menghubungkan kota lain yang lebih kecil dan secara posisi kebetulan berada diantara kedua kota tersebut seperti Numazu, Shizuka, Nagoya dan juga Kyoto.

Untuk memenuhi kebutuhan proyek itu, pembangunan infrastruktur besar-besaran sangat dibutuhkan. Hal ini membutuhkan dana investasi yang tidak sedikit, mengapa seperti itu?, karena proyek ini ternyata membutuhkan rel yang karakteristiknya berbeda dengan rel yang sudah ada sebelumnya. Misalnya rel harus dibuat menjadi lebih luas dan juga lebih lurus, pemerintah Jepang juga harus membangun rel kereta diantara dua kota yang paling banyak penduduk lengkap dengan infrastruktur pendukungnya. Itu berarti mereka bukan hanya harus membangun sebuah lintasan melainkan harus membangun 2 lintasan sekaligus dalam arti bolak balik.

Untuk menjamin stabilitas lintasan tersebut, rel kereta harus dibuat selurus mungkin. Itu artinya mereka harus membuat sekitar 67 terowongan baru  sepanjang 107 km maupun membangun lebih dari 3.000 jembatan baru. Selain itu Jepang juga harus merubah seluruh jalan-jalan yang dilalui oleh rel kereta api tersebut dengan membangun under pass atau fly over baru. Karena begitu cepatnya kereta tersebut, Jepang juga harus membangun pusat lalu lintas dan komunikasi yang berada di Tokyo. Organisasi ini bertugas untuk mengatur koodinasi dan lalu lintas yang dibutuhkan kereta Shinkansen.

Berbagai proyek pembangunan ini memang membuka lapangan kerja yang tidak sedikit, namun anggaran yang diperlukannya juga sangatlah besar. Awalnya anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan ini diperkirakan sekitar 200 milyar Yen, dalam proses pembangunannya anggaran dana yang dibutuhkan meningkat secara drastis, hampir dua kali lipat menjadi 380 milyar Yen. Meningkatnya anggaran pembangunan dikarenakan berbagai faktor khususnya pembangunan infrastruktur pendukung seperti terowongan dan jembatan baru yang melebihi perhitungan semula.

Kenaikan biaya pembangunan yang sangat drastis tersebut membuat dua pemimpin visioner yang paling bertanggung jawab dalam projek tersebut yaitu presiden kereta api nasional Jepang Shinji Sogo dan kepala insinyur Hideo Shima terpaksa mengundurkan diri sebelum proyek tersebut selesai dibangun. Keberanian mereka mengorbankan pekerjaannya sendiri agar proyek dapat selesai tepat waktu dan bermanfaat bagi masyarakat merupakan suatu pengorbanan yang pantas untuk menjadi teladan bagi kita semua.

Meningkatnya anggaran yang begitu besar dari proyek itu segera memenuhi kolom-kolom berita utama Jepang, bahkan hanya satu tahun sebelum persemiannya ada seorang ahli kereta api Jepang yang menyebut projek tersebut sebagai puncak dari kegilaan, media lain menyebut proyek itu sebagai tembok besar versi Jepang atau kapal perang Yamamoto, proyek ambisius yang menelan anggaran dana begitu besar namun tidak tepat sasaran.

Tidak sedikit yang menganggap proyek ini sebagai investasi yang sia-sia, mereka mempertanyakan dibanding berinvestasi pada transportasi yang ketinggalan jaman dan tidak fleksibel ini mengapa tidak meniru langkah dari negara barat yang sedang kencara membangun jalan raya dan industri penerbangannya. Ada juga yang mempertanyakan apakah investasi yang begitu besar dari proyek ini setimpal dengan manfaat yang nantinya diperoleh oleh Jepang.

Berbagai reaksi baik dari masyarakat maupun dari media sebenarnya sangatlah wajar karena pada zaman itu masih belum ada satupun kereta api super cepat yang berhasil dibangun dan beroperasi seperti saat ini. Sekalipun demikian berbagai kritik akan segera terjawab saat Shinkansen beroperasi pada tanggal 1 Oktober 1964, Shinkansen bukan hanya berhasil menjadi simbol kebangkitan Jepang. Proyek ini juga menunjukan kepada dunia bagaimana Jepang merupakan bangsa yang inovatif dengan penguasaan iptek yang tidak kalah dengan bangsa-bangsa barat.

Tahun 1964, pemerintah Jepang menjadi tuan rumah dari olimpiade musim panas. Mereka mempergunakan kesempatan itu untuk menunjukkan hasil kemajuan IPTEKnya kepada seluruh dunia. Rute pertama Shinkansen yang dibuka oleh Jepang adalah Tokyo Osaka. Kedua kota terbesar di Jepang ini dipisahkan dengan jarak sejauh 515,4 Km, pembangunan rute Shinkansen menggunakan waktu pengerjaan selama 5 tahun.

Rute ini menjadi rute pertama dari kereta api super cepat pertama dalam sejarah dunia yang kemudian akan dikenal dengan kereta api peluru. Nama ini diambil dari bentuk lokomotiv keretanya yang menyerupai bentuk peluru. Begitu cepatnya Shinkansen membuat mobil yang sedang melaju di jalan tol terlihat seperti mobil yang sedang parkir. Berbagai maskapai penerbangan yang awalnya dianggap sebagai moda transportasi masa depan muali terancam dengan kembalinya moda transportasi jaman dulu yang kini hadir kembali dengan kemampuan dan kecepatan barunya.

Rute penerbangan antara kota yang awalanya sangat menguntungkan bagi berbagai maskapai penerbangan kini terancam dengan adanya Shinkansen. Kombinasi antara kecepatan, kemudahan, daya tampung, dan juga murahnya harga tiket membuat Shinkansen memberikan pilihan baru kepada masyarakat untuk bepergian dengan cepat, nyaman, dan kesempatan untuk melihat betapa indahnya pemandangan Jepang. Tidak mengherankan jika maskapai penerbangan sampai mempertimbangkan jumlah rute penerbangannya yang dilalui oleh kereta Shinkansen.

Hanya dengan teknologi zaman itu, kereta ini sudah mampu mencapai kecepatan maksimal mendekati 220 Km per jam. Saat pertama kali melayani Tokyo Osaka Shinkansen berhasil memecahkan rekor perjalanan dengan waktu 3 jam 10 menit, hal ini melebihi kecepatan kereta api manapun baik di Jepang maupun di dunia. Pada tahun perdananya saja Shinkansen sudah berhasil mengangkut lebih dari 150 juta penumpan membuatnya sebagai salah satu moda transportasi yang paling menguntungkan baik dari segi profit maupun waktu konsumen.

Keberhasilan Shinkansen juga memberikan manfaat yang sangat besar bagi pebisnis dan profesional dimana mereka dapat pergi ke kota lainnya dan pulang di hari yang sama. Manfaat tersebut menjadi semakin nyata karena jumlah kereta Shinkansen yang digunakan juga semakin diperbanyak sehingga daya tampungnya juga semakin besar. Keberhasilan projek tersebut tidak terlepas dari kemampuan para pemimpin fisioner yang mampu menggabungkan moda transportasi kuno dengan teknologi terbaru dan mengintegrasikan keduanya menjadi proyek Shinkansen.